Gagal Romantis

Dik Az, panggilan sayangku pada si bujang cilik itu. Namanya Faraz tapi ia sering menyebut dirinya sendiri dengan sebutan itu. Tak lain tak bukan karena ia termasuk yang paling kecil di antara teman-temannya di sini. Semua memanggilnya Adek Faraz. Kemudian olehnya menjadi singkat: Dik Az.

Malam kemarin, seperti biasanya Dik Az minta dipeluk sebelum tidur. Biasanya dia akan 'ndusel-ndusel' kemudian terlelap.

Entah kenapa aku terbawa suasana. 
Rasanya syahdu sekali.

Aku pun teringat sebuah teori dari buku parenting yang pernah kubaca. Katanya, ketika anak mulai terlelap pada 10 menit pertamanya kita bisa bisikkan banyak kalimat positif. 

Kalimat-kalimat positif atau biasa disebut afirmasi positif itu kelak akan berkekalan di alam bawah sadarnya. Bahkan hebatnya nanti bisa membentuk pribadinya. Sedikit macam hipnoterapi begitu. 

Dengan posisi bayi umur 2 tahunku yang tengah meringkuk memelukku erat, aku pun terbawa suasana dan semangat sekali hendak praktek teori tadi.

Pelan-pelan kubisikkan:
"I love you, Dik Az. Barakallah, Nak. Ittaqullah, Nak."

Begitu kalimat pembuka yang kuucapkan. Kurasa Dik Az sendiri sudah tak asing dengan kalimat-kalimat itu. Meskipun aku tau dia belum terlalu mengerti maknanya. Memang sejak ia baru lahir aku selalu membisikkan 3 kalimat itu.

Kalimat pertama menyampaikan rasa cintaku padanya. Lalu disusul kalimat kedua dan ketiga yang berupa doa untuknya.

Suasana makin syahdu.
Lampu sudah dimatikan. Dik Az terbiasa tidur dalam gelap. Aku pun mulai merangkai afirmasi positif yang ingin kutanamkan padanya.

Yaitu, aku ingin dia tahu bahwa ia dicintai sepenuhnya. Lalu, aku ingin membuatnya tahu tugasnya untuk beribadah.

Well, terlalu dini kah? Yang penting sudah kusampaikan. Begitu pikirku.

Ternyata, romantisme yang sedang kubangun itu ambyar seketika. Berubah menjadi silly convo kami dua beranak.


***


Aku: Bobok lah, Nak. Istirahat dulu malam ini. Besok kita main lagi ya. Mama-Papa sayang Faraz. (Kemudian aku kecup keningnya).

Ealaaaah...
Dia melek. Matanya terang benderang sambil berucap:


Faraz: Nekno?
Aku: (agak kaget dia bangun) sayang juga.
Faraz: Neknan?
Aku: Sayang juga.
Faraz: Nekbak?
Aku: Iya, sayang Faraz.
Faraz: Nekmak?
Aku: sayaaaang (mulai ga sabaran).
Faraz: Cik Ima?
Aku: sayang jugaaaa.
Faraz: Bikce?
Aku: sayaaaaang.
Faraz: Ibuk? (Ini panggilannya pada adikku nomor 2)
Aku: sayaaaaaang.


Makin ga sabaran akutu.
Akhirnya, kupotong cepat-cepat.

"Dah-dah, boboklah Dik Az. Dah malam ni."

Kemudian hening. 

Berhenti mulut mungil ceriwisnya itu membuat daftar pertanyaan baru lagi. Kebayang masih ada banyak sekali daftar nama yang akan dia sebut.

Cik Epi belum. Kak Fatih belum. Nek buyut belum. Nekcik belum. Belum lagi sederet nama teman-temannya. Mainannya pun pasti ikut diabsen. Duuuuuh...

Ahahahahaa...

Hilang sudah kesyahduan mood romantisme tadi. Gagal romantis, Cyiiint!



Related Posts

2 comments

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter